Tentang Hari Film Nasional Indonesia yang Wajib Sobat Tau!

Selamat Hari Film Nasional! Artikel webkeren.Net berjudul Tentang Hari Film Nasional Indonesia (Day of National Film Indonesia) yang Wajib Sobat Tau! ini akan membahas mengenai pengertian, sejarah dan perayaan Hari Film Nasional serta Sejarah Perfilman Indonesia. Mungkin selanjutnya juga akan diulas artikel tentang Hari Film Nasional Internasional dan pengertian sejarah perkembangan pertama pusat industri film cinema 21 di indonesia dari masa ke masa saat ini ataupun data penonton streaming online youtube download gratis daftar film indonesia romantis format pdf.

Sejarah Hari Film Nasional Indonesia

Hari Film Nasional Indonesia (Day of National Film) adalah hari yang dirayakan dengan berbagai cara pada tanggal 30 Maret setiap tahun sebagai upaya meningkatkan kepercayaan diri, semangat dan motivasi insan film Indonesia serta guna meningkatkan prestasi yang dapat mengangkat derajat film Indonesia secara regional, nasional dan internasional di mata dunia. Tanggal ini dipilih karena merupakan hari yang menjadi momen pengambilan gambar pertama film Darah dan Doa, film yang merupakan hasil kreasi orang Indonesia dan perusahaan film milik orang Indonesia untuk pertama kalinya.

Berikut ini adalah Sejarah Perfilman Indonesia dan Sejarah Hari Film Nasional Indonesia yang webkeren kutip dari Wikipedia dan berbagai sumber lainnya.

Sejarah Perfilman Indonesia

Industri film muncul di Indonesia sudah dilakukan sejak Indonesia belum merdeka dan masih merupakan bagian dari Hindia Belanda, wilayah jajahan Kerajaan Belanda. Saat itu perusahaan film hanya dimiliki oleh orang Cina & Belanda. Produksi film pertama kali di Indonesia ialah pada tahun 1926, yaitu film bisu yang berjudul Loetoeng Kasaroeng. Film ini merupakan kreasi sutradara asal negeri Belanda G. Kruger dan L. Heuveldorp yang dibintangi oleh aktor pribumi (anak-anak bupati Bandung Wiranata Kusuma II) dan diproduksi oleh Perusahaan Film Jawa NV di Bandung. Film ini diputar pertamakali di Bandung atau tepatnya di teater Elite and Majestic pada tanggal 31 Desember 1926. Sementara film dengan suara baru dibuat pada tahun 1931,dimana film pertama adalah film dengan judul Bunga Roos dari Tjikembang yang disutradarai oleh The Teng Chun.

Selanjutnya pada masa penjajahan Jepang, pemutaran film di bioskop terbatas untuk memutar film-film propaganda politik penjajah dan film-film Indonesia yang sudah ada sebelumnya. Itulah kenapa era ini disebut juga era surutnya produksi film nasional di Indonesia. Sementara perusahaan film Jepang yang beroperasi di Indonesia Nippon Eigha Sha, cuma menghasilkan 3 film; Pulo Inten, 1001 Malam dan Bunga Semboja.

Sejarah Hari Film Nasional Indonesia


Tanggal 30 Maret 1950 adalah hari yang bersejarah bagi dunia perfilman Indonesia dan merupakan penanda perjalanan sejarah film Indonesia. Tanggal ini 30 Maret dipilih sebagai Hari Film Nasional Indonesia karena merupakan hari yang menjadi momen pengambilan gambar pertama film Darah dan Doa atau Long March of Siliwangi, film yang merupakan hasil kreasi orang Indonesia dan perusahaan film milik orang Indonesia untuk pertama kalinya.

Penetapan 30 Maret sebagai Hari Film Nasional ini merupakan hasil konferensi Dewan Film Nasional dengan organisasi perfilman pada 11 Oktober 1962. Yang kemudian pada perkembangannya penetapan Hari Film Nasional secara resmi dilakukan pada masa pemerintahan BJ Habibie melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 1999 tentang Hari Film Nasional (Keppres RI No. 25 Tahun 1999).

Film yang berasal dari skenario penyair Sitor Situmorang, disutradarai Usmar Ismail dan diproduksi oleh perusahaan bernama Perfini (Perusahaan Film Nasional Indonesia) yang diciptakan pada perkembangan film indonesia periode 1950 – 1962 tersebut dinilai sebagai film lokal perdana yang kental dengan nuansa dan ciri khas Indonesia. Dimana film ini menceritakan kisah seorang pejuang revolusi Indonesia yang mengalami jatuh cinta kepada gadis asal Jerman karena pertemuan keduanya dalam perjalanan pengungsian.

Sebagai pengetahuan tambahan, Usmar Ismail lahir pada tanggal 20 Maret 1921 di kabupaten Bukittinggi, Provinsi Sumatera Barat. Sebelum masuk dunia perfilman, beliau ialah penyair dan dramawan dimana pada tahun-tahun setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, beliau merupakan Pemimpin Redaksi (Pimred) Harian Rakjat.

Pada periode perkembangan yang sama pada tahun 1951 diresmikan juga bioskop termegah dan terbesar pada saat itu, yaitu Metropole yang saat ini berlokasi di Megaria. yang kemudian setelahnya terjadi peningkatan kuantitas bioskop secara cepat dan masif dimana sebagian besar dimiliki oleh kalangan non pribumi. Lalu pada 1955 juga dibentuk Persatuan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia dan GAPEBI (Gabungan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia), yang selanjutnya bergabung menjadi GABSI (Gabungan Bioskop Seluruh Indonesia). Selain PFN yang merupakan perusahaan film negara, terdapat juga 2 perusahaan perfilman terbesar di Indonesia masa itu yaitu Perfini dan Persari yang dipimpin oleh Djamaluddin Malik.

Perayaan Hari Film Nasional

Setiap tahun pada tanggal 30 Maret hingga saat ini banyak perayaan yang dilakukan untuk merayakan hari film nasional dan mengenang perjuangan Usmar Ismail terhadap dunia perfilman nasional. Biasanya perayaan hari film nasional ini diselenggarakan oleh Badan Perfilman Indonesia (BPI). Sebagaimana pada tahun 2016 BPI menyelenggarakan perayaan Hari Film Nasional (HFN) bertemakan ‘Film Indonesia adalah kita’.

Sebagaimana dimuat NationalGeographic, perayaan diawali dengan penyerahan cetak biru konsep penyelenggaraan festival film untuk kaum muda Indonesia yang merupakan hasil workshop yang telah diselenggarakan sebelumnya oleh 80 sineas. BPI juga mengundang keluarga dari Usmar Ismail serta memberikan penghargaan berupa Piala Antemas untuk film komersial terlaris sepanjang 2015-2016 pada HFN.

Festival Film Indonesia pertama kali diadakan pada tahun 1955 dengan nama Pekan Apresiasi Film Nasional. Akan tetapi penyelenggaraan FFI tidak konsisten, sehingga baru terselenggara kembali pada tahun 1960 dan 1967. Baru kemudian sejak tahun 1973 FFI mulai konsisten diselenggarakan secara rutin setiap tahun. Saat ini Ketua Umum FFI periode 2021-2023 adalah Reza Rahadian.

Acara lainnya yaitu pemutaran serentak film klasik berjudul 3 Dara (Film ini diproduksi tahun 1956 dan meraih Piala Citra pada tahun 1960 dalam kategori Tata Musik terbaik) karya Usmar Ismail di Gedung bioskop XXI Metropole & CGV Blitz Pacific Place Jakarta. Secara luas diselenggarakan pula pemutaran film pendek di rumah susun yang berlokasi di seluruh wilayah Ibukota Indonesia DKI Jakarta yaitu Kepulauan Seribu, Jakarta Utara, Jakarta Barat, Jakarta Timur dan Jakarta Pusat. Perayaan HFN kemudian ditutup dengan acara Pesta Film Rakyat di Taman Menteng selama 2 hari dengan berbagai macam program serta pemutaran film layar tancap.


Demikianlah artikel webkeren.Net bertajuk Sejarah Hari Film Nasional Indonesia (Day of National Film Indonesia) yang membahas mengenai pengertian, sejarah dan perayaan Hari Film Nasional serta Sejarah Perfilman Indonesia. Semoga bermanfaat untuk kita semua.

Bagaimana cara sobat merayakan atau memperingati Hari Film Nasional? ketik di kolom komentar!